Perekonomian Indonesia

Komentar Perekonomian Indonesia :

Perkembangan perekonomian Indonesia selalu mengalami peningkatan di setiap pergantian presiden. Karena  disaat pergantian presiden yang baru, maka sistem ekonomi dan kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia pun ikut berubah. Perubahan tersebut cukup memberikan dampak yang positif bagi masyarakat terutama dibidang ekonomi.  Berikut ini adalah perjalanan perekonomian Indonesia yang dapat dibagi menjadi empat masa, yaitu masa sebelum merdeka, orde lama, orde baru dan orde reformasi.

I. Masa Sebelum Merdeka

Pada masa sebelum merdeka sistem perekonomian Indonesia masih diatur oleh penjajah yang pada saat itu sangat merugikan Indonesia, karena semua sumber daya alam yang ada di Indonesia dikuras oleh para penjajah. Pada saat itu banyak masyarakat Indonesia yang dijadikan sebagai budak di negaranya sendiri. Mereka semua diperlakukan tidak adil.

Negara penjajah yang paling merugikan Indonesia adalah Jepang, karena pemerintah militer Jepang melakukan perombakan besar-besaran dalam struktur ekonomi masyarakat. Kesejahteraan masyarakat merosot tajam dan terjadi bencana kekurangan pangan, karena produksi bahan makanan dipasok untuk kebutuhan militer. Tidak hanya pemerintah militer Jepang yang merugikan Indonesia,  pemerintah Belanda pun sangat merugikan Indonesia. Hampir seluruh kekayaan Indonesia dikuras untuk memperkaya mereka. Banyak  kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah  Belanda membuat Indonesia sengsara dan rata-rata kehidupan rakyatnya dibawah taraf kemiskinan.

II. Masa Orde Lama

Masa orde lama yang dipimpin oleh Presiden Ir. Soekarno belum menunjukkan peningkatan dibidang ekonomi karena Indonesia pada saat itu baru terbebas dari penjajahan yang sudah sekian lama menjajah Indonesia. Pada saat itu Indonesia mengalami inflasi yang sangat tinggi yaitu sekitar 679%, disebabkan beredarnya lebih dari satu mata uang yang tidak terkendali. Dalam mengatasi ekonomi yang cukup buruk, pemerintah Indonesia melakukan beberapa usaha untuk memperbaiki kondisi ekonomi, antara lain dengan melakukan pemotongan nilai mata uang ( sanering ), menumbuhkan wiraswastawan pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang tertentu, namun usaha tersebut gagal. Kegagalan-kegagalan dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah karena pemerintah tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya. Pada masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan pemerintah, akibatnya masyarakat Indonesia masih hidup dibawah kemiskinan.

III. Masa Orde Baru

Pada masa pemerintahan yang dipimpin Ir.Soeharto, stabilitas ekonomi dan stabilitas politik menjadi prioritas utama. Program pemerintah berorientasi pada usaha pengendalian inflasi, penyelamatan keuangan negara dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Hasilnya, pemerintah Indonesia berhasil mengurangi tingkat inflasi hingga 650% per tahun. Pemerintah Indonesia juga berhasil swasembada beras, menurunkan angka kemiskinan, serta perbaikan indikator kesejahteraan rakyat seperti angka partisipasi pendidikan dan penurunan angka kematian bayi, dan industrialisasi yang meningkat pesat. Namun dampak negatifnya adalah kerusakan serta pencemaran lingkungan hidup dan sumber-sumber daya alam, perbedaan ekonomi antar daerah, antar golongan pekerjaan dan antar kelompok dalam masyarakat terasa semakin tajam, serta penumpukan utang luar negeri. Disamping itu, pembangunan menimbulkan konglomerasi dan bisnis yang sarat korupsi, kolusi dan nepotisme. Pembangunan hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi tanpa diimbangi kehidupan politik, ekonomi, dan sosial yang adil. Sehingga meskipun berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tapi secara fundamental pembangunan nasional sangat rapuh. Akibatnya, ketika terjadi krisis yang merupakan imbas dari ekonomi global, Indonesia merasakan dampak yang paling buruk. Harga-harga meningkat secara drastis, nilai tukar rupiah melemah dengan cepat, dan menimbulkan berbagai kekacauan di segala bidang, terutama ekonomi.

IV. Masa Orde Reformasi

Masa reformasi diawali oleh pemerintahan BJ Habibie. Pada saat itu pemerintah belum banyak melakukan manuver-manuver untuk mengatasi masalah ekonomi. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun, belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain masalah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), pemulihan ekonomi, kinerja BUMN, pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs rupiah. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat.

o       Masa Kepemimpinan Megawati Soekarno Putri

Pada masa kepemimpinan Presiden Megawati, perekonomian Indonesia mulai mengalami kemajuan. Pemerintah dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi menjadi 4,1 %, karena pada saat itu pemerintah membuat kebijakan privatisasi BUMN, yaitu menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan mengurangi beban Negara. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi karena BUMN yang diprivatisasi dijual kepada perusahaan asing.

o       Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono

Di masa kepemimpinan Presiden Susilo hingga sekarang, perkembangan perekonomian Indonesia cukup signifikan yaitu pertumbuhannya 6,1% per tahun, hal itu disebabkan karena pemerintahan presiden susilo membuat suatu kebijkan kontroversial yaitu dengan mengurangi subsidi BBM dengan kata lain pemerintah menaikkan harga BBM. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan, serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial.
Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu, yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah.
Pada tahun 2008, disaat amerika serikat mengalami resesi akibat kredit macet, perekonomian Indonesia tidak mengalami imbas yang besar, itu disebabkan tingginya pertumbuhan ekonomi dua negara yaitu China dan India. Hal itu didasarkan oleh beberapa indikasi yaitu, hubungan dagang Indonesia dengan negara-negara regional semakin meningkat, meskipun hubungan dagang dengan Amerika mengalami penurunan. Selain itu, yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional didominasi oleh konsumsi dan ekspor yang dibantu oleh membaiknya investasi swasta. Saat ini Indonesia juga dipercaya sebagai anggota G-20, dunia barat menilai bahwa Indonesia dapat memberikan dampak yang positif bagi perekonomian dunia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s